Rabu, 19 Maret 2014

Aku berkaca

Diposting oleh Nirmala Yulisningati di 02.34

           
           Siang ini tepat jam 12.41 aku duduk di depan campus centre. Tidak bisa kemana-mana karena hujan deres sekali. Rencananya hari ini aku ke UPT TI untuk browsing tugas laporan. Dan ternyata full, tak ada tempat. Hingga aku memutar otak untuk ke ATM. Hujanpun mengeroyokku.. Benar2 tidak sesuai rencana. 
            Namun, hujan ini tidak menggoyahkan tekadku. Sekedar mengisi waktu sambil menunggu hujan reda aku pun membuka netbook ku untuk menulis. Dan seketika itu ada seorang nenek menghampiriku. Dia basah kuyup, salah satu tangannya digendong dengan kain yang usang. Melihat setiap kerutan di wajahnya, senyuman yang begitu lembut. Sepertinya dia sudah banyak makan garam. Dia duduk di sebelahku. Menatapku kemudian berbicara.

Ia pun berbicara panjang lebar mengenai kisah hidupnya. Nenek ini ketika berumur 8 tahun sudah menjalani kehidupan di zaman Jepang. Sekarang, dia berumur 104 tahun. Sungguh di luar dugaan. Dengan umurnya yang sekarang ini, dia mampu mencari nafkah meski dia meminta-minta di depan tempat pengambilan uang. Aku terenyu dengan semua yang dia ceritakan. Hidupnya dari lahir memang susah, ia menjual segalanya hanya untuk mengisi perut yang kosong. Dan hari ini pun tanpa keluarga dia hidup sebatang kara, tinggal di dekat sungai dengan rumah yang benar2 kecil. Melihat kondisinya, dia baru menjadi korban tabrak lari. Alhasil, dia lumpuh selama satu tahun, dan tangannya lebam tak bisa digerakkan. Berobat pun rasanya susah, karena untuk makan saja ia terkadang harus meminta belas kasihan atau diberi oleh tetangganya.  Sungguh kasihan.. Tapi aku salut dengannya. Ia tetap kuat menjalani sisa hidupnya dan tidak pernah putus asa. Benar-benar orang yang hebat.
            Akupun berkaca pada diriku sendiri, kenapa dengan hidupku yang sudah enak seperti ini aku terus mengeluh? Jika dibandingkan dengan nenek ini ataupun orang-orang yang ada di luar sana. Hidup serabutan tanpa mengenal bagaimana mereka mencapai semua harapan dan impiannya. Tuhan, maafkan aku yang awalnya mengeluh akan semua kondisi yang tidak sesuai dengan apa yang aku inginkan. Kini, aku bersyukur dengan hujanmu. Hujan memang rahmat. Rahmat yang tidak disangka-sangka. Terimakasih Tuhan, karena dengan hujanmu aku mengerti dan sadar akan hidup ini. Memang Engkau memberikan apa yang manusia butuhkan, bukan apa yang diinginkan.
            Banyak sekali mimpi-mimpi yang ingin aku gapai. Terkadang aku merasa putus asa, menyalahkan waktu yang tak sesuai dengan yang aku harapkan, menyalahkan kondisi, dan menyalahkan segalanya. Sungguh rasanya aku hina. Kesuksesan memang tidak selalu melalui jalan yang mulus. Terkadang kita harus jatuh bangun, atau mungkin hingga berdarah. Kali ini aku yakin, bahwa apa yang aku impikan tidak sekedar mimpi. Aku HARUS menggapainya apapun yang terjadi. Semua pengalaman  yang menyakitkan akan ku buat bekal untuk bertahan di kehidupan yang keras ini.  Dan memang aku akan menjadi kuat karenanya. Tuhan, terimakasih karena tetap memeluk mimpi-mimpiku. Semoga keberhasilanku kelak dapat membahagiakan orang-orang terkasih maupun orang yang ada disekitarku..


                                                                                                       Jember, 5 Januari 2014.

0 komentar:

Posting Komentar

Text Widget

Total Pageviews

Poll

Pages

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Google+ Followers

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

Popular Posts

 

Cappuccino Licious Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei | web hosting